Panduan Jurnalis Kampus dalam Memberitakan Isu Keberagaman 2011
Pendahuluan
Tidak jarang media menstigmatisasi kelompok-kelompok minoritas. Banyak media di negeri ini tampak mudah tergiring pada gairah konservatisme dan puritanisme yang menguat di kalangan agamawan yang mendaku mempunyai otoritas atas kebenaran absolut yang datang dari Tuhan, seperti tokoh-tokoh Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Umat Islam (FUI), Front Pembela Islam (FPI), dan kelompok fundamentalis lainnya.
Media gemar melabeli setiap kelompok yang berbeda dari paham teologi mainstream sebagai sesat, menyimpang, atau meresahkan umat. Hal yang sama menimpa kalangan yang mempunyai orientasi seksual selain hetero yang mendapat vonis sebagai kaum berperilaku menyimpang, mengidap “penyakit jiwa”.
Dalam beberapa kasus media bahkan tanpa sadar memprovokasi masyarakat untuk bersikap dan bertindak intoleran terhadap minoritas tertentu, bahkan menghalalkan kekerasan. Hal ini tampak ketika media mengutip dan menayangkan mentah-mentah apa yang diucapkan MUI dan tokoh-tokoh garis keras tanpa memberikan interpretasi yang tepat dan proporsional. Pada titik inilah media turut larut dalam politik bahasa yang dimainkan para agamawan.
Tak pelak media menjadi corong konservatisme yang memusuhi keragaman. Kecenderungan seperti ini lebih dikarenakan banyak jurnalis kurang pandai menghindari jebakan bahasa yang menstigmatisasi.
Alih-alih memperjuangkan demokrasi, menjunjung tinggi hak asasi dan prinsip kebebasan di negeri ini, media massa justru termakan prasangka-prasangka yang menghidupi umat Islam mainstream untuk kemudian menebar kebencian dan, akibatnya, semakin memarjinalkan kelompok-kelompok agama dan keyakinan minoritas, budaya lokal dan warga yang mempunyai orientasi seksual yang berbeda. Hak-hak dan kebebasan sipil mereka terampas.
Dalam sejarahnya, melalui bahasa yang digunakannya, media mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam menciptakan masyarakat yang toleran dan damai; atau, sebaliknya, menghasut masyarakat untuk berkonflik, saling perang. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut kiranya menjadi kemestian bagi negeri yang sangat beragam (agama, keyakinan, suku atau etnis, budaya, orientasi seksual) ini menaruh harapan pada peran strategis media untuk mendorong iklim toleransi dan perdamaian.
Karena itu, oleh banyak pihak, terutama para aktivis hak asasi manusia, media massa digadang-gadang berada satu barisan dalam mengkampanyekan gagasan pluralisme demi menciptakan kehidupan damai yang menghargai setiap perbedaan. Sebab, media massa merupakan pilar ke-empat demokrasi, setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.
Maka, di samping menjadi keniscayaan bagi para jurnalis untuk memahami dan menyadari betul perspektif keberagaman, penting pula membekali calon-calon wartawan di kalangan (pers) mahasiswa dengan gagasan-gagasan yang lebih toleran terhadap minoritas, “yang lain,” yang berbeda, supaya masa depan media di Indonesia sepenuhnya mendukung kebebasan dan merayakan perbedaan.
Untuk itu, pers mahasiswa – sebagai tempat dimana idealisme dijunjung – harus sejak dini mempunyai keterlibatan dalam membela hak-hak kaum yang terpinggirkan, apapun latar belakang agama, keyakinan, etnis, dan orientasi seksualnya.
Nama Kegiatan
Nama kegiatan ini adalah Workshop “Panduan Jurnalis Kampus dalam Memberitakan Isu Keberagaman”.
Tujuan
Tujuan dari penyelenggaraan workshop ini:
- Memberikan pemahaman kepada para jurnalis kampus tentang pentingnya gagasan pluralisme dalam pemberitaan yang terkait isu keberagaman;
- Membekali para jurnalis kampus kepekaan dalam memberitakan perbedaan secara toleran, jauh dari stigmatisasi terhadap kalangan minoritas;
- Mendorong para jurnalis kampus memainkan perannya untuk mengangkat kelompok-kelompok marginal.
Keluaran
Keluaran workshop yang diperuntukkan bagi jurnalis kampus ini:
- Terciptanya jurnalis kampus yang memiliki kualifikasi dalam membuat karya jurnalistik yang berperspektif keberagaman berbasiskan analisis HAM, gender, dan pluralisme atau multikulturalisme (bersertifikat);
- Gagasan-gagasan pluralisme menjadi prioritas dalam karya jurnalistik pers mahasiswa;
- Terbangunnya jaringan pers mahasiswa yang berperspektif keberagaman.
Peserta
Workshop ini diikuti oleh sekitar 25 mahasiswa calon wartawan yang aktif dalam pers mahasiswa di wilayah Makasar.
Ketentuan Peserta
Peserta yang mengikuti kegiatan Workshop “Panduan Jurnalis Kampus dalam Memberitakan Isu Keberagaman” memenuhi ketentuan sebagai berikut:
- Aktif dalam pers mahasiswa
- Membuat tulisan/karya jurnalistik tentang keberagaman di wilayahnya masing-masing yang dikirimkan ke SEJUK paling lambat seminggu sebelum pelaksanaan workshop
- Belum pernah mengikuti workshop serupa yang diadakan SEJUK
Waktu dan Tempat
Jumat – Minggu, Tgl. 16-18 September 2011 di Makasar
Info selengkapnya hubungi Malya: 0852.2252.2582




