Oleh: Tim Sejuk
Dua kekerasan bernuansa agama yang melibatkan Front Pembela Islam (FPI) menandai berita-berita media online Agustus ini: batalnya penanyang film ”?” di SCTV dan penyerangan kantor dan masjid Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI).
Sebagian besar berita-berita media online memberikan dukungan pada SCTV untuk tetap menayangkan film karya Hanung Bramantyo itu meski adanya ancaman dari FPI. Judul-judul berita, diksi dan narasumber yang digunakan media online umummunya nmenunjukkan keberpihakan pada SCTV.
Vivanews merupakan salah satu media online yang paling banyak dan lengkap dalam menulis peristiwa pembatalan film ”?” ini. Sedikitnya enam berita terkait pembatalan penayangan film ini yang diturunkan media ini.
Judul-judul berita Vivanews juga menunjukkan keberpihakan pada keberagaman, misalnya berita dengan judul ”Rencana Sweeping FPI Ke SCTV Dikecam GP Ansor” (27/8) ”KPI: Kasus Film '?' Preseden Buruk Penyiaran” (28/8) dan ”FPI Berkukuh '?' Haram, MUI Nyatakan Tidak” (29/8),
Penggunaan kata ”digeruduk”, dan ”sweeping” dalam berita-berita di Vivanews , juga menunjukkan terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh FPI terhadap korban, yakni SCTV.
Vivanews juga menggunakan narasumber yang beragam dalam peristiwa pembatalan film ini, diantaranya, tentu saja dari pihak yang terlibat dari FPI, SCTV dan sutradara film Hanung Bramantyo. Selain itu beberapa pihak juga diwawancarai untuk menunjukkan dukungan terhadap SCTV, seperti Ezki Suyanto dari Komisi Penyiaran Indonesia dan Ketua Umum Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) Nusron Wahid.
Media online ini juga menunjukkan kebohongan FPI yang menyatakan film ”?” sudah difatwakan haram melalui berita yang berjudul ”FPI Bersikukuh Haram, MUI Nyatakan Tidak”. Menurut Ketua DPP FPI DKI Jakarta Habib Salim Alatas, dasar penolakan FPI terhadap film kaya Hanung Bramantyo itu disebabkan adanya fatwa haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun menurut Ketua MUI Ma'ruf Amin, MUI tidak mengeluarkan fatwa haram untuk film itu.
Dalam berita diatas Vivanews menulis Lead (paragraf pembuka): ”Satu lagi ancaman datang dari Front Pembela Islam (FPI). Setelah serangkaian aksi sweeping terhadap tempat hiburan malam, kini ormas itu mengancam pemutaran film '?' yang akan diputar oleh SCTV. Media ini ingin mengingat pembacanya akan adanya ancaman yg dilakukan oleh FPI dan hal ini telah terjadi lebih dari satu kali.
Sementara itu, meski tidak sebanyak dan semendalam Vivanews, Detik.com juga menunjukkan ketidaksetujuannya pada apa yang dilakukan FPI dalam beberapa berita yang ditayangkan, seperti dalam berita yang berjudul ”KPI Sayangkan Protes FPI ke SCTV Soal Film '?'” (28/8) dan ” KPI Imbau Lembaga Penyiaran Pede Tayangkan Program Siaran ” (28/8).
Portal berita tebesar di negeri ini juga melaporkan peristiwa dan menunjukkan adanya kekerasa melalui judul dan pemilihan kata-kata dalam beritanya, seperti berita yang berjudul ”Digeruduk FPI, SCTV Batal Tayangkan Film '?' ” (27/8).
Agak berbeda dengan dengan media online lainnya, Okezone tidak menunjukkan keberpihakan pada korban yakni SCTV dan Hanung Bramantyo, justru media yang tergabung dalam MNC Group ini lebih banyak memberikan ruang pada FPI lewat berita-beritanya.
Dalam berita-beritanya, Okezone cenderung mendukung pembatalan film dan memojokkan Hanung seperti yang terlihat dalam berita "Hanung Takut Bertemu FPI" (28/8), dan “Tayangkan Film '?', FPI Serbu Kantor SCTV”.
Senada dengan Okezone, Tribunnews juga menunjukkan sikap penentangan terhadap intimidasi yang dilakukan FPI. Bahkan ada satu berita yang mirip yakni berita yang berjudul ”Habib Rizieq: Hanung Bramantyo Takut” (28/). Belum jelas apakah berita mirip yang diupload pada hari yang sama ini wawancaranya dilakukan bersamaan. Keduanya hanya mengutip pimpinan Rizieq Shihab tanpa mengutip pihak-pihak lain seprti Hanung ataupun pihak SCTV. Tidak ada upaya-upaya dalam berita lanjutannya untuk cover both sides apalagi cover all sides.
Dalam berita yang mirip ini tampaknya sang jurnalis mewawancarai Riziq Shihab di kediamannya di daerah Petamburan, Jakarta, Pusat. Kedua media ini terlihat memberikan porsi ruang lebih besar pada pada kelompok anti-keberagaman dan meberi space yang lebih kecil pada Hanung.
Kedua media online ini tidak berupaya mempertanyakan kewenangan apa yang dimilki FPI dalam melarang sebuah produk kesenian. Kedua media juga tidak berupaya, misalnya, mewancarai pihak-pihak yang tidak setuju terhadap aksi FPI.
Tribunnews hanya mengutip Hanung lewat statement-statement yang diungkapkanya lewat twitter. Media ini juga mengutip peryataan-pernyataan dukung terhadap Hanung dan kecaman atas pembatalan terhadap film ini yang dinyatakan melalui social media tersebut.
Kedua media online ini, Okezone dan Tribunnews, menunjukkan pandangan yang mendukung kekerasan dan anti kebebasan dan keberagaman. Hal ini terlihat dari judul-judul pilihan kata, lead berita-beritanya. Dari sisi jumlah berita, keduanya juga lebih sedikit dibandingkan dengan detikcom dan Vivanews. Hal ini bisa juga diartikan sebagai sikap yang anti-kebebasan dan anti keberagaman. Paling tidak kedua media ini mungkin mengganggap pembatalan film tersebut bukanlah sebuah persoalan serius yang bisa mengancam kebebasan pers dan berekspresi.
Selain pembatalan penayangan film “?” Agustus ini media-media online juga menurunkan berita kekerasan yang lagi-lagi dilakukan oleh anggota-anggota FPI. Kali ini, media-media online menayangkan berita pengrusakan masjid dan kantor JAI Makassar.
Dalam berita-beritanya Detikcom menunjukkan keberpihakannya pada korban, seperti dalam berita “Massa FPI Serang Sekretariat Ahmadiyah di Makassar” (14/8) dan ’Penyerangan Ahmadiyah Polisi Tetapkan Pimpinan FPI Makassar Jadi Tersangka” (14/8). Pemilihan kata, lead dan judul sudah menunjukkan sikap anti-kekerasan.
Hal senada juga terlihat dalam berita-berita yang yang dimuat oleh Tribunnews. Media ini juga menunjukkan adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota-anggota FPI terhadap JAI. Bahkan media ini melanjutkan dengan menulis berita ”LBH Sulsel Desak Polisi Tangani Kasus FPI” (15/8) dan ”Polisi Identifikasi Pelaku Pengrusakan Masjid Ahmadiyah” (15/8).
Dari kedua peristiwa yang diangkat pada Agustus ini, tampaknya media-media online besar seperti Detik.com dan Vivanews sudah menunjukkan keberpihakannya pada korban dan anti kekerasan dengan liputan yang cukup mendalam dan meliput semua pihak. Sementara itu, media-media yang lebih kecil seperti Tribunnews dan Okezone, masih menunjukkan ”simpati” pada pelaku kekerasan dengan memberikan ruang lebih pada pelaku kekerasan.




