Oleh Tim SEJUK
14 agustus 2011, Metro TV menayangkan berita tentang seorang ibu yang pingsan karena warung makannya diserbu FPI. Bukannya berempati terhadap korban, Metro TV justru membuat berita dengan nada mengejek sang korban. “Ada-ada saja kelakuan Ibu saenah. Ia mendadak pingsan dan tergeletak di kursi saat FPI merangsek ke warung makannya. Anggota FPI mendapati warungnya buka di siang hari saat umat Islam tengah beribadah puasa. FPI pun memergoki dua orang tengah makan dan minum di warung tersebut,” demikian Metro TV.
Nada berita jelas memojokkan korban. Berita ini melegitimasi tindakan teror Front Pembela Islam. Seolah-olah makan di siang hari pada bulan puasa adalah tindak kejahatan yang harus dicibir. Dan FPI dipersepsi sebagai pembela kebenaran karena melakukan teror terhadap pemilik warung makan dan pelanggannya. Perghatikan kata “memergoki” yang dipakai Metro TV.
Kita juga patut bertanya, apakah seluruh umat Islam benar berpuasa saat itu? Pilihan kalimat tersebut semakin menyudutkan korban. Dan sebenarnya tidak ada relevansi sebuah media publik menghubungkan antara warung makan yang buka dan orang yang berpuasa.
Pemihakan media terhadap aksi FPI dengan cara ikut menghakimi korban membuat aksi teror-razia FPI semakin massif. Sepanjang satu bulan, selama Ramadan, aksi-aksi FPI merebak di mana-mana. Hampir tidak ada respon berarti dari pihak keamanan. Seolah-olah tindakan main hakim sendiri itu adalah sesuatu yang sah. Polisi mendukung. Media mendukung. Masyarakat mendukung. Sementara para korban mengutuki diri sendiri.
14 Agustus, FPI mengintimidasi pemilik warung makan di Ciamis. 15 Agustus , aksi serupa dilakukan kepada warung-warung makan di Cianjur. 17 Agustus, mereka melakukan itu di Pontianak. Di Riau, aksi FPI mensweeping rumah makan dilakukan pada 27 Agustus. Sementara di Bandung, FPI mendatangi warung makan pada 1 Agustus 2011. 13 Agustus, di Bekasi, FPI juga meneror 20 tempat hiburan.
Gerakan-gerakan teror FPI yang selalu marak di bulan puasa sangat mungkin akan terus dilakukan di tahun-tahun mendatang. Media-media hampir tidak menunjukkan sikap kritis terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Yang muncul dalam pemberitaan adalah alasan penyerangan dari pihak FPI. Hampir tidak ada konfirmasi kepada polisi maupun korban. Suara yang muncul sepenuhnya adalah suara penyerang. Media akhirnya menjadi corong penyerang.
“Masih banyak warung yang buka di siang hari meski telah mendapat peringatan,” demikian Metro TV.
Selain melakukan aksi razia warung makan, FPI juga melakukan tindakan brutal terhadap jemaat Ahmadiyah di Makassar. 13 Agustus, massa FPI mendatangi kantor jemaat Ahmadiyah dan melakukan penyerangan. Polisi hampir tak berbuat apa-apa. Padahal mereka hadir dengan senjata yang lengkap. Massa FPI bahkan sesumbar menantang FPI.
Di akhir berita, Metrio TV mengeluarkan jurus lama, “Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menyelidiki penyebab pasti insiden tersebut.” Ada peristiwa kekerasan, tapi penyebabnya belum diketahui. Seperti sudah menjadi pakem di media, lagi-lagi yang muncul adalah alasan penyerangan yang dilakukan oleh FPI. Metro menyatakan bahwa massa FPI hanya lewat di depan kantor FPI. Melihat ada kegiatan di kantor yang sekaligus masjid itu, massa FPI melakukan serangan.
Berita yang muncul hanya sampai di situ. Tidak ada upaya untuk menggali atau mencari tahu apa sebenarnya yang dilakukan oleh jemaat Ahmadiyah di kantornya. Apakah kegiatan mereka benar-benar berbahaya dan bermasalah atau sebenarnya kegiatan biasa seperti ibadah atau lainnya. Lalu apakah benar FPI hanya lewat dan kemudian menyerang. Hendak kemanakah massa FPI yang kemudian melakukan penyerangan itu. Apa korelasinya antara kegiatan di dalam kantor sendiri dengan massa yang lewat dan kemudian beringas? Apakah FPI benar-benar hanya lewat atau sebenarnya memang secara sengaja melakukan penyerangan? Bukankah jalan Annuang tempat kantor Ahmadiyah Makassar berdiri itu adalah gang sempit yang sangat tidak masuk akal arak-arakan Ormas harus sampai melewati jalan itu?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak kritis itu membuat berita lagi-lagi sangat mengabaikan korban. Berita yang muncul adalah perspektif penyerang. Kebrutalan dilegitimasi oleh media nasional yang seharusnya bisa meredam mencari solusi bagi persoalan. Media yang seharusnya memberi suara bagi yang tertindas, kelompok yang tidak punya suara.




