Serikat Jurnalis untuk Keberagaman

“Intoleransi di Media dan Tantangan Memberitakan Isu Keberagaman"

E-mail Cetak PDF

b_300_200_16777215_0___images_stories_awi_sejuk.jpgAkar fundamentalisme ada di mana-mana, termasuk di media.  Salah satunya bisa dilihat dari kemunculan sejumlah media Islam yang selalu menggambarkan bahwa Islam berada dalam posisi yang berlawanan dengan barat, bahwa Islam sedang ditindas oleh Kristen dan sebagainya.  Prinsip berpikir yang demikian,  kemudian membuat berbagai pemberitaan media itu cenderung mentolelir berbagai aksi kekerasan yang dilakukan umat Islam karena beranggapan bahwa itu sebagai sebuah bentuk perlawanan. Media-media semacam ini selalu mengangkat narasumber yang justru mendiskreditkan kelompok minoritas yang menjadi korban, dan memberi label ‘sesat’ kepada banyak kelompok yang tidak sama dengan mereka.  Dan media-media itu, menurut pengamat media  Ade Armando, dibaca luas oleh kalangan fundamentalis, fotokopiannya dibagikan dan ditempel di mading-mading masjid. Media-media itu menjadi rujukan sebagian umat Islam dalam menyikapi berbagai kasus intoleransi yang terjadi di masyarakat.

Media mainstream pun bukan tanpa persoalan. Alih-alih memberitakan berbagai kasus kekerasan berlatar agama dengan “kaca mata jurnalisme”,  banyak yang justru ikut larut memanasi konflik yang terjadi. Misalnya dengan ikut memberi label ‘sesat’ pada sekelompok orang yang berbeda dengan kebanyakan, atau memilih dan mewawancarai narasumber yang tidak berfihak pada korban. Padahal dalam setiap koflik sosial, korban biasanya adalah kelompok minoritas dan marjinal. Mereka kerap tak diberi tempat dalam kehidupan sosial.

Berbagai pemberitaan yang tak berpihak pada korban inilah yang kemudian bisa melanggengkan kekerasan kepada korban.  Tanpa sadar mereka ikut mentolelir berbagai aksi kekerasan yang terjadi di masyarakat, bahkan ikut bersimpati pada gerakan terorisme.

Padahal media memiliki peran penting dalam merawat keberagaman Indonesia di tengah menguatnya fundamentalisme dan maraknya aksi intoleransi belakangan ini. Mulai dari penyegelan gereja hingga penyerbuan dan aksi kekerasan yang menimpa kelompok yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah, Syiah maupun agama-agama lokal yang tumbuh di berbagai daerah.  Melalui kerja-kerja jurnalistik yang memiliki persfektif keberagaman, media mestinya bisa mengurangi berbagai tindakan intoleransi tersebut atau setidaknya tidak turut menjadi pelaku kekerasan terhadap mereka yang dianggap sesat. Sayangnya belum banyak media mampu menjalankan peran itu.

Pers kampus adalah cikal bakal wajah industri pers Indonesia di masa mendatang. Dari pers kampus kerap lahir para jurnalis yang akan mengisi dan menentukan arah kebijakan “politik” redaksi media, baik cetak, portal,  maupun elektonik. Karena itu pembekalan yang bersifat persfektif bagi para aktivis pers kampus penting dilakukan agar industri pers Indonesia nanti memiliki visi yang jelas terhadap kemajemukan dan keberfihakannya pada korban.

Untuk itulah perlu dilakukan diskusi terus menerus terhadap para calon wartawan yang nantinya akan bekerja di industri media sesungguhnya. Agar mereka tak terjebak melakukan hal yang justru menjauhkan mereka dari fungsi dan peran media dalam merawat kemajemukan Indoensia.

Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com

Add comment


Security code
Refresh