Serikat Jurnalis untuk Keberagaman

Petisi Masyarakat Sipil Penyelamat KOMNAS HAM

E-mail Cetak PDF

b_300_200_16777215_0___images_stories_peristiwa-beri-ayam-jantan-73.jpgBebaskan KOMNAS HAM dari Fundamentalisme Agama

Kepada: Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

Kami warga negara Indonesia menyampaikan keprihatinan dan protes kepada salah seorang komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM) bernama Saharuddin Daming, atas pernyataan sikapnya di berbagai media massa dan dalam berbagai pertemuan, dan pelatihan, Sdr. Saharuddin Daming, tidak menunjukan sikap, fungsi dan kewenangannya sebagai anggota Komnas HAM. Hal ini kami pandang dapat merusak kredibilitas Komnas HAM sebagai lembaga yang independen sebagaimana yang diamanahkan UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Hal ini terkait dengan pernyataan Sdr. Saharuddin Daming yang dimuat di sebuah media online lokal Bangkapos.com, dimana disebutkan Ahmadiyah sebagai organisasi atau pihak yang telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Bangka Pos melaporkan:

“Komisioner Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) Saharuddin Daming menyatakan bahwa kebebasan beragama ini ada aturannya dimana kebebasan agama adalah kembali ke ajaran agama yang pokok dimana konsisten menjalani ajaran agama yang suci. Ahmadiyah menyatakan kebebasan beragama, tapi jangan melakukan tindakan yang mengatasnamakan HAM untuk menodai ajaran Agama Islam. Apa yang dilakukan Ahmdiyah itu termasuk pelanggaran HAM karena merampas dan menodai ajaran agama Islam," tegas Saharudin dalam penyuluhan HAM bagi pemuka agama dan pemuka masyarakat adat Bangka Belitung, Rabu (15/6/2011) di RRI Sungailiat.”

Bukan kali ini saja Sdr. Saharuddin Daming memberikan pernyataan publik yang memihak kepada salah satu pihak atau kelompok masyarakat di Indonesia, yakni kelompok yang menuntut pembubaran organisasi JAI dan pemaksaan mereka untuk merubah keyakinan mereka yang secara konstitusional dijamin oleh Pancasila dan UUD 1945.


Berikut kami kutipkan pernyataan Sdr. Saharuddin Daming yang dilansir oleh media Hidayatullah.com pada Oktober 2010 lalu:


“Anggota Komnas HAM menyambut baik rencana Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali yang akan membubarkan organisasi Ahmadiyah. Bahkan, pembubaran tersebut sama sekali tidak melanggar HAM. Hal itu disampaikan Anggota Komisioner Komnas HAM, Saharudin Daming Rabu (13/10), pagi tadi. Saharudin mengatakan, jika rencana Menag tersebut telah didasari pertimbangan logis, SKB 3 Menteri, dan pendapat umum dari berbagai masyarakat, maka pembubaran Ahmadiyah sudah tepat dan tidak melanggar HAM. Saharuddin menambahkan, jika keberadaan organisasi Ahmadiyah dipertahankan justru akan mengganggu ketertiban umum (public order) dan mengakibatkan ketegangan di level bawah, dapat dijadikan alasan. Keputusan Menag membubarkan organisasi Ahmadiyah adalah sesuatu yang legal, seperti yang dilakukan Mendagri, sebagaimana tertera dalam Pasal 28 J ayat 1 tentang hukum, ketertiban umum, kesusilaan dan agama.”


Kami juga memantau bahwa Sdr. Saharuddin Daming berkali-kali melancarkan pernyataan senada tentang Ahmadiyah baik melalui mediadotcom maupun secara on air di Radio RRI Pro2 FM. Yang bersangkutan juga menyatakan persetujuannya terhadap hukuman mati yang secara nyata bertentangan dengan norma HAM dan konstitusi Indonesia (Rakyat Merdeka, 8 April 2010).


Seluruh pernyataan Sdr. Saharuddin Daming, kami pandang tidak pada kapasitasnya sebagai seorang Komisioner HAM, di tengah kontroversi tentang Ahmadiyah, baik menyangkut hukum, kasus kekerasan dan dugaan pelanggaran HAM yang menimpa pengikut organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia di berbagai kota di Indonesia.


Kami memandang bahwa pernyataan tersebut sangat tidak tepat dan tidak pantas untuk diucapkan oleh anggota komisi lembaga negara yang independen dan memiliki tugas pokok dan fungsi untuk memajukan nilai-nilai HAM, yang semestinya berdiri di atas semua golongan dan kepentingan yang mengatasnamakan hak asasi manusia ataupun agama dan keyakinannya masing-masing.  Hal itu melanggar kode etik Komnas HAM dan UU HAM No. 39 tahun 1999.


Kami akan sangat menghargai dan menghormati jika pernyataan tersebut disampaikan secara pribadi atau mewakili ormas tertentu, dimana Sdr. Saharuddin Daming tidak lagi menduduki jabatan lembaga negara seperti Komnas HAM.


Dalam konteks kasus-kasus Ahamdiyah, sepatutnya Sdr. Saharuddin melakukan mediasi sebagaimana di atur dalam Pasal 1 (7)  dan Pasal 76 (1) UU HAM yang berbunyi, “Untuk mencapai tujuannya, Komnas HAM melaksanakan fungsi pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi tentang hak asasi manusia.” Bukan dengan memberikan pernyataan-pernyataan yang seolah-olah membenarkan berbagai tindakan kekerasan dan dugaan pelanggaran HAM yang menimpa warga negara Indonesia, dari golongan Ahmadiyah (JAI).


Selain itu Sdr. Saharuddin juga tidak berpegang teguh pada tujuan Komnas HAM pasal 75 dimana Komnas HAM bertujuan: (a) mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945. dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia; dan (b) meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai bidang kehidupan.


Adalah fakta dimana tindakan kekerasan dan dugaan pelanggaran HAM yang menimpa Ahmadiyah, serta kebebasan keyakinan warga Ahmadiyah merupakan kenyataan yang dijamin oleh UUD 1945, Piagam PBB dan DUHAM. Namun dari berbagai pernyataan Sdr.Saharuddin, seakan mengingkari Piagam PBB dan DUHAM. Seharusnya sikap seorang Komisioner HAM tentang Ahmadiyah berada dalam posisi yang independen yang berpijak pada UU HAM, hukum Hak Asasi Manusia, baik yang berlaku secara nasional maupun internasional.


Pernyataan-pernyataan Sdr. Saharuddin sebagai Komisioner HAM juga sepatunya disampaikan berdasarkan hasil sidang paripurna Komnas HAM. Dan mengingat Sdr. Saharuddin adalah wakil Komnas HAM yang harus memajukan HAM dalam seluruh aspek, namun ternyata pernyataannya tidak menunjukan esensi bahkan kualitas seorang Komisioner HAM. Seluruh pernyataan seorang Komisioner seharusnya melewati mekanisme tertentu yang telah diatur baik dalam  UU HAM No. 39 tahun 1999 di atas  maupun dalam Kode Etik Komnas HAM. Dengan demikian seluruh pernyataan Sdr. Saharuddin menyalahi Pasal 70 UU HAM No. 39 tahun 1999 bahwa pemegang kekuasaan tertinggi di Komnas HAM adalah Sidang Paripurna, bukan pendapat pribadi seorang Komisioner.


Dari fakta dan analisis tersebut, maka dengan ini kami menuntut dan menyerukan:


1.    Meminta kepada Mejelis Etik HAM untuk segera menyelenggarakan Sidang Kode Etik Komisioner HAM dengan memberikan kesempatan kepada Sdr. Saharuddin, untuk memberikan penjelasan dan klarifikasi mengenai pernyataan-pernyataannya tersebut.

2.    Mengacu pada analisa kami di atas, maka kami meminta kepada Dewan Kode Etik untuk memberikan sanksi kepada Sdr. Saharuddin, dalam kapasitasnya sebagai Komisioner HAM yang telah melanggar prinsip-prinsip HAM baik yang mengacu pada hukum dan instrumen-instrumen nasional maupun internasional.

3.    Menuntut kepada Sdr. Saharuddin untuk meminta maaf kepada publik, atas sikap dan pernyataannya yang tidak mencerminkan kapasitasnya sebagai anggota lembaga negara Komnas HAM Republik Indonesia yang seharusnya berdiri di atas kepentingan semua kelompok dan golongan di masyarakat Indonesia

4.    Menyerukan kepada Presiden dan DPR untuk membersihkan Lembaga Negara RI: Komnas HAM dari anasir-anasir fundamentalisme agama yang membahayakan masa depan Pancasila, UUD 1945, dan perkembangan HAM di Indonesia.



Jakarta, 15 Juli 2011


Masyarakat Sipil :

1.         Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI)

2.         Aliansi Sumut Bersatu, Medan, Sumatera Utara

3.         Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG), Kandis, Riau

4.         BAKUMSU, Medan, Sumatera Utara

5.         Bali Corruption Watch (BCW), Denpasar, Bali

6.         BPD SHI SUMSEL, Palembang, Sumatera Selatan

7.         Crisis Center Gereja Kristen Indonesia (CC GKI), Jakarta

8.         Demos, Jakarta

9.         Forum Dialog Antar Kita, Sulawesi Selatan

10.       Forum Dialog Kalimantan Selatan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

11.       Forum Diskusi Wathaniyah, Manado

12.       Forum Kajian Strategis (Forkastra), Jakarta

13.       Forum Komunikasi Lintas Iman (FORKASI), Gorontalo

14.       Gedong Gandhi Ashram, Candi Dasa, Bali

15.       HOTLINE, Surabaya

16.       Human Rights Working Group (HRWG), Jakarta

17.       Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Jakarta

18.       Institut Dialog antariman di Indonesia (Institut DIAN/INTERFIDEI), Yogyakarta

19.       Institut Toleransi Keberagaman dan Pelestarian Lingkungan (Ilalang), Papua

20.       Institute for Ecosoc Rights, Jakarta

21.       Jaringan Indonesia Raya (JIRA), Jakarta

22.       Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta

23.       Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta

24.       Komite Mahasiswa Pemuda Untuk Demokrasi, Palembang, Sumatera Selatan

25.       Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT), Salatiga

26.       Komunitas Peduli Perempuan dan Anak (KPPA), Sulawesi Tengah

27.       Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR), Makassar, Sulawesi Selatan

28.       Lembaga Antariman untuk Kemanusiaan di Maluku (El-AI-EM), Ambon

29.       Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Jakarta

30.       Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (Lk3), Banjarmasin, Kalimantan Selatan

31.       Lembaga Pengkajian dan Pengembangan KABAR BAIK, Jakarta

32.       Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Jakarta

33.       Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Semarang

34.       Lingkar Indonesia untuk Keadian (LINK), Jombang, Jawa Timur

35.       Lingkaran Artikulasi Reformasi Transformasi dan Inovasi (ARTI)

36.       MAJELIS LSM SUMSEL, Palembang, Sumatera Selatan

37.       Masyarakat Dialog Antar Agama (MADIA), Jakarta

38.       Mawale Cultural Center, Tomohon, Minahasa

39.       National Integration Movement (NIM), Jakarta

40.       Pelayanan Komunikasi Masyarakat Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Yakoma PGI), Jakarta

41.       Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), Jakarta

42.       Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Jakarta

43.       Pusat Studi Antar Komunitas (PUSAKA), Padang, Sumatera Barat

44.       Pusat Bantuan Hukum Indonesia (PBHI), Sulawesi Utara

45.       Pusat Studi Islam, UII, Yogyakarta

46.       Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), Salatiga, Jawa Tengah

47.       Tim Pembela Kebebasan Beragama (TPKB), Jakarta

48.       Ut Omnes Unum Sint Institute, Jakarta

49.       Wahid Institut, Jakarta

50.       Yayasan Bogani Karya, Manado, Sulawesi Utara

51.       Yayasan Cindelaras Paritrana, Yogya

52.       Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta

53.       Yayasan OYO, Sorong, Papua Barat

54.       Yayasan Rumpun, Yogyakarta

55.       Yayasan Serat, Manado, Sulawesi Utara

Pribadi :

1.         A. Mubarik Ahmad, Jakarta

2.         Aan Anshori, Jombang, Jawa Timur

3.         Abdani Solihin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

4.         Abdul Latief, Makassar, Sulawesi Selatan

5.         Abidin Wakano, Ambon, Maluku

6.         Agil Basrewan, Manado, Sumatera Utara

7.         Agus Setio Utomo, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

8.         Agus Sutomo, Pontianak, Kalimantan Barat

9.         Agus Wardoyo, Jayapura, Papua

10.       Agustien Kaunang, Tomohon, Minahasa

11.       Ahmad Munjid, Yogyakarta

12.       Ahmad Suaedy,  Jakarta

13.       Ali Imran Duwila, Merauke, Papua

14.       Ani Mariatun, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

15.       Anick HT, Jakarta

16.       Apner Korwa, Sorong, Papua Barat

17.       Asmirah, Jayapura, Papua

18.       Azhar Ridhani, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

19.       Bahruddin, Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah

20.       Benget Silitonga, Medan, Sumatera Utara

21.       Bernando Sinaga, Padang, Sumatera Barat

22.       Berton,  Kandis, Riau

23.       Billy Joseph Bibianu, Jakarta

24.       Binsar A. Hutabarat, Bekasi, Jakarta

25.       Budhi Santoso Wignyosudarmo, Bekasi, Jawa Barat

26.       Calvyn Taunaumang, Tahuna, Sangir, Sulawesi Utara

27.       Christina Dwi Susanti, Advokasi Demos, Jakarta

28.       Christina Josefien Hutubessy, Makassar, Sulawesi Selatan

29.            Damairia Pakpahan, Yogyakarta

30.       Daniel Tobing, Yogyakarta

31.       Darius Bubut, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

32.       Denni Pinontoan, Tomohon, Minahasa

33.       Djohan Effendi, Jakarta

34.       Donna Keles, Manado, Sulawesi Utara

35.       Dr. Ir. Ridwan Lasabuda MSi, Manado, Sulawesi Utara

36.       Dwi Indah Wilujeng, Jakarta

37.       Edy Safitri, Yogyakarta

38.       Elga Sarapung, Yogyakarta

39.       Ellen Pitoi, Jakarta

40.       Engel Semuya, Sorong, Papua Barat

41.       Engkus Ruswana - Penghayat Kepercayaan, Bandung

42.       Erick M.F. Dayoh, Manado, Sulawesi Utara

43.       Erna Kasypiah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

44.       Esthi Susanti, Surabaya, Jawa Timur

45.       Fahmi Sallatalohy, Ambon, Maluku

46.       Fauziah H. Rahawarin, Jayapura, Papua

47.       Firdaus Mubarik, Jakarta

48.       Francis Wahono,  Yogyakarta

49.       Frangky Tampubolon, Jakarta

50.       Hardin Halidin, Jayapura, Papua

51.       Harun Wasolo, Manado, Sulawesi Utara

52.       Helmi Inan, Jayapura, Papua

53.       Henry H. Sitohang, Jakarta

54.       Humaidy, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

55.       I Nyoman Sadra, Karangasem, Bali

56.       Ilham Masykuri Hamdie, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

57.       Ina Butar butar, Jakarta

58.       Indro Suprobo, Yogyakarta

59.       Ira Sasmita, Yogyakarta

60.       Isnaini Uswanas, Jayapura, Papua

61.       Iverdixon Tinungki, Manado, Sulawesi Utara

62.       John Watimena, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

63.       Juffry Suak, Manado, Sulawesi Utara

64.       KH. Arifin Assagaf, Manado, Sulawesi Utara

65.       Khairani Arifin, Banda Aceh, Sumatera Utara

66.            Kombunge Verry Dabla , Jayapura -Papua

67.       Kristina Viri, Jakarta

68.       Laode Arham, Jakarta

69.       Lazarus Gon, Jayapura, Papua

70.       Lefinus Batsira, Ambon, Maluku

71.       Luh de Suryani, Bali

72.       M. Dawam Rahardjo, Jakarta

73.       M. Tajudin, Merauke, Papua

74.       Mardison Simanjorang, Yogyakarta

75.       Margareth Aritonang, Jakarta

76.       Maria Ulfah Anshor, Jakarta

77.       Marthen Luther Sesa, Jayapura, Papua

78.       Maruli Silaban, Jakarta

79.       Miryam Nainggolan-Jakarta

80.       Misni Parjiati, Yogyakarta

81.       Muhamad Isnur, Jakarta

82.       Mustari Mustafa, Makassar, Sulawesi Selatan

83.       Mutmainah Korona, Sulawesi Tengah

84.            Muzayyin Fathoni Habibie, Manado, Sulawesi Utara

85.       Nelti Anggraini, Padang, Sumatera Barat

86.       Nia Syarifudin, Jakarta

87.       Nicolas S. E. Lumba Kanaa, Kalabahi - Kabupaten Alor, NTT

88.       Noorhalis Madjid, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

89.       Normadina Dina, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

90.       Nursyahbani Katjasungkana, Jakarta

91.       Padmono, SK, Jakarta

92.       Pastor John Djonga, Keerom, Papua

93.       Paul Titit, Sorong, Papua Barat

94.       Pdt. Albertus Patty, Bandung, Jawa Barat

95.       Pdt. Christopher Sinulingga, Karo, Kabanjahe, Sumatera Utara

96.       Pdt. Daryatno, Solo, Jawa Tengah

97.       Pdt. Firman Adi Kristiyono, Jakarta

98.       Pdt. Gomar Gultom, Jakarta

99.       Pdt. Hananto Kusumo, Yogyakarta

100.    Pdt. Penrad Siagian, Kabanjahe, Sumatera Utara

101.    Pdt. Renata Ticonuwu, Manado, Sulawesi Utara

102.    Pdt. Ruth Saiya, Ternate, Maluku Utara

103.    Pdt. Sefnat Hontong, Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara

104.    Pitres Sombowadile, Manado, Sulawesi Utara

105.    Putu Wirata Dwikora, Denpasar, Bali

106.    Rafiqah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

107.    Raja Juli Antoni, Jakarta

108.    Rakhmalina Bakhriati, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

109.    Reiner Emyot Ointoe, Manado, Sulawesi Utara

110.    Reza Tehusalawany, Jakarta

111.    Richardus Giring, Pontianak, Kalimanta Barat

112.    Ridwan Olii, Manado, Sulawesi Utara

113.    Rizka Argadianti Rachmah, Jakarta

114.    Robert Bawolo-PEACEINDO, Yogyakarta

115.    Rodriques Servatius, Kupang, NTT

116.    Romo Antonius Benny Susetyo, Jakarta

117.    Romo Johanes Hariyanto, Jakarta

118.    Ronny Christanto, Semarang, Jawa Tengah

119.    Roy Dimara, Sorong, Papua Barat

120.    Rumadi, Jakarta

121.    Rusmiyanto, Merauke, Papua

122.    Saidiman Ahmad, Jakarta

123.    Samsi Pomalingo, Gorontalo

124.    Sartana, Yogyakarta

125.    Selwa Kumar, Medan

126.    Semuel Asse Bless, Sorong, Papua Barat

127.    Shirley Doornik, Jakarta

128.    Sigit Budi Darmawan, Jakarta

129.    Sri Endras Iswarini, Jakarta

130.    Sri Maryanti, Peneliti Demos, Jakarta

131.    Sri Palupi, Jakarta

132.    Sri Ratna Mbaresi, Poso, Sulawesi Tengah

133.    Sriyono, Merauke, Papua

134.    Sudarto, Padang, Sumatera Barat

135.    Sukma Arida, Bali

136.    Sultan Zulkarnaen, Manado, Sulawesi Utara

137.    Sutjipto Noho, Manado, Sulawesi Utara

138.    Tatok, Lampung, Sumatera Selatan

139.    Tedi Kholiludin, Semarang, Jawa Tengah

140.    Teuku Kemal Pasha, Aceh, Sumatera Utara

141.    Thowik Anwary, Jakarta

142.    Tjiu Hwa Jioe, Jakarta

143.    Veryanto Sitohang, Medan, Sumatera Utara

144.    Vick Chenore, Manado, Sulawesi Utara

145.    Victor Silaen, Ketua Pengurus Yakoma PGI, Jakarta

146.    Widyarso, Jakarta

147.    Windy Asmara, Jakarta

148.    Wiwin S. Aminah, Yogyakarta

149.    Yosefa Lamera, Merauke, Papua

150.    Yumasdaleni, Medan, Sumatera Utara

151.    Zainul Fuad, Medan, Sumatera Utara


Foto: http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1225354773/peristiwa-beri-ayam-jantan-73.jpg

Joomla Templates and Joomla Extensions by ZooTemplate.Com